Jurnal | Maszboks

untuk hal-hal yang akan terus bertumbuh.

#2 untuk mencurahkan isi kepala

Beberapa waktu terakhir aku cukup sering terpapar konten “If my life was a movie” dan “adding subtitles to my photos/videos“. Apa jadinya kalau kehidupan sehari-harimu adalah sebuah film dan ada dialog di dalamnya (di setiap scene-nya).

Ketika belajar fotografi jurnalistik semasa kuliah, dosenku pernah berkata kalau foto atau visual itu bisa semakin kuat apabila terdapat narasinya. Walaupun dalam konteks ini narasi yang dimaksud adalah caption atau deskripsi peristiwa yang terjadi dalam foto tersebut, aku rasa ini mirip juga dengan apa yang terjadi dengan tren “adding subtitles to my photos” ini.

Kembali ke konteks tren konten di media sosial ini, menarik untuk melihat ketika sebuah foto bisa menjadi lebih bermakna ketika disisipkan sebuah percakapan singkat atau hanya sekadar kalimat keterangan di dalam foto tersebut.

Lucu juga mengimajinasikan sebuah foto dengan teks dialog di dalamnya seperti sebuah potongan scene dalam film. Cerita-cerita lucu, sedih atau sekadar ungkapan perasaan tertentu menjadi menarik untuk dinikmati. Tidak hanya sekadar potongan klip 30 detik sampai 1 menit yang menjadi format utama pada media sosial dalam beberapa tahun terakhir.

Mengingat pendekatan di media sosial saat ini lumayan berubah nggak, sih? Dulu kita mungkin terkesan dengan visual yang ciamik nan estetik, tapi sekarang orang cenderung lebih suka narasinya juga. Visual mungkin nggak selalu yang paling bagus, tetapi ketika digabungkan dengan story telling yang baik tentu menarik perhatian orang-orang yang mengonsumsi konten di media sosial saat ini.

Bagiku, format konten ini seru untuk dicoba. Sepertinya bisa dengan mudah untukku menuangkan ide-ide ke dalam bentuk seperti ini. Sering kali hal-hal ruwet di kepala muncul hampir setiap harinya. Memikirkan banyak hal setelah melihat sesuatu hingga membayangkan situasi di tempat-tempat yang sedang aku kunjungi. Setiap foto yang aku ambil dan simpan menjadi lebih mudah aku ceritakan dengan menambah sedikit keterangan atau percakapan pendek di setiap foto.

Setiap memutar lagu “No Fruits For Today”-nya Sore, entah kenapa vibes-nya selalu menenangkan, hening dan menyejukkan. Dulu aku kira ini hanya lagu bertema jatuh cinta pada umumnya. Ternyata setelah memahami seluruh liriknya, ini tuh seperti sindiran buat orang yang suka bertele-tele atau berlebihan untuk urusan asmara. Seharusnya kalau emang ada perasaan, ya nggak usah muter-muter, nyatakan saja. Nggak usah pake basa-basi.

Beberapa bulan terakhir ini aku lebih sering menghabiskan waktu dengan menyendiri. Beres kerja, shooting atau ada kegiatan apapun itu ya langsung pulang. Mulai jarang buat sekadar ajakan teman untuk nongkrong. Nggak tau ya, ada berasa capeknya. Padahal ajakannya juga pas akhir pekan, pas lagi gak ada kesibukan apa-apa.

Akan selalu ada yang namanya love-hate relationship dengan urusan pekerjaan. Jujur dari dalam hati sih sebenarnya suka banget buat ngerjainnya, tapi kadang ada faktor dari luar diri kita sendiri yang bikin berat buat kerja.

Yaa walaupun kalau dari diri sendiri sih masih suka berkutat dengan mood yang masih suka angin-anginan buat kerja, hehehe….

Sering terjebak dalam kondisi overthinking, rasa penyesalan atas kesalahan di masa lalu, tidak pernah benar-benar memperhitungkan resiko dari hal-hal yang akan dilakukan (alias cenderung impulsif) hingga mood yang mudah sekali naik-turun. Aku sadar belakangan ini kondisi tubuhku ini nggak selalu stabil.

Satu hari aku pernah meminta saran kepada seorang teman untuk apa yang harus dilakukan ketika kondisi mental lagi kurang baik. Selain mencatat apa yang sedang dirasakan, aku juga disarankan untuk mencoba makan es krim. Saran yang kayaknya nyeleneh, tapi setelah ku coba ternyata cukup menolong juga, hahaha….

“Kamu kalo mendadak tengah malem jadi sedih gitu, biasanya ngelakuin apa?”

“Aku akan nangis sih dan nulis note di hp. Tapi coba sempetin beli es krim deh, works everytime to me”

Sejak November 2025, aku berusaha untuk hadir di setiap Aksi Kamisan. Walau nggak selalu bisa di setiap minggunya, tapi frekuensinya sampai bulan Januari ini lumayan juga.

Aku belajar konsistensi dari Aksi Kamisan. Mengingat 2026 ini adalah tahun ke 19 Aksi Kamisan berdiri. 19 tahun memperjuangkan keadilan, mempertanyakan ke mana mereka yang hilang.

Ada hari di mana sebenarnya aku ingin meninggalkan Jakarta, merasa sepertinya banyak yang sudah aku dapatkan di kota ini. Ini bukan tentang kepuasan ego semata, melainkan sudah cukup banyak hal yang harus dikorbankan dari pergi merantau ini.

Walau aku juga percaya, semua ada sebab dan akibatnya. Semua hal pasti beresiko. Tinggal siap atau engga buat menghadapi ini semua. Yah, mungkin satu hari nanti semua kebingungan itu terjawab. Pulang atau tetap tinggal, beranjak atau kembali.

Ahh, dipikir-pikir udah beberapa bulan ini aku nggak ngasih kabar kepulanganku buat Ibuk di rumah. Nanti ya, buk.


Jakarta, 24 Januari 2026
maszboks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *