Sepanjang bulan Januari ini kayanya Jakarta diguyur hujan deras terus menerus ya. Beberapa wilayah bahkan sampai banjir. Yaa sebenarnya, sih, hal seperti ini memang sudah bisa diprediksi setiap awal tahunnya di Jakarta. Tapi mosok iya sih kebiasaan begini ga pernah ditanganin dengan serius?
Berita yang aku baca pagi tadi yaitu pemerintah Jakarta sedang melakukan modifikasi cuaca sampai 1 Februari 2026 (beritanya bisa dibaca di sini ya). Tujuannya sih kurang lebih untuk menekan kemungkinan dampak bencana yang ditimbulkan dari curah hujan tinggi yang belakangan terjadi yak. Semoga hasilnya baik, deh. Sebagai mantan pekerja kantoran, aku juga kasihan kalau melihat para pekerja ini harus berjibaku dengan keadaan seperti ini terus. Lekas pulih, Jakarta!
Hari-hariku berjalan seperti biasa saja sebenarnya. Sebagai pekerja lepas (yang bulan ini masih dikit calling-an), hari ini cukup santai. Eh, nggak santai-santai amat juga, sih, haha. Jam 10 pagi seperti biasa nyalain PC, cek update invoice yang masih pending dan apply pekerjaan baru. Ya, sepertinya tahun ini aku ingin kembali kerja kantoran lagi. Sudah cukup rasanya ‘istirahat’ dari rutinitas kantoran sejak bulan Mei 2025 lalu.
Beruntung sekali cuaca cukup bersahabat. Melihat langit cerah sore hari, sepertinya menarik untuk pergi bersepeda. Sebenarnya aku rutin menggunakan sepeda dalam aktivitas harian, misalnya beli makan, ke supermarket, pergi ke tempat laundry sampai pergi nongkrong. Kebetulan sudah lama aku nggak sepedaan buat sekadar ngopi aja.

Aku pergi ke Semampire Subud, jaraknya hanya sekitar 2,5 kilometer dari tempat tinggal. Sengaja memilih tempat yang nggak terlalu jauh karena semisal tiba-tiba hujan deras di tengah jalan pun bisa langsung putar balik untuk pulang, hehehe..
Selain jarak, suasana di tempat ini juga jadi alasan kedua. Terletak di pinggir Jalan RS Fatmawati Raya (di dalam area Wisma Subud), kali ini aku bisa ngopi sambil menikmati suasana kemacetan di jam pulang kantor, melihat MRT Jakarta yang melintas sembari menunggu matahari tenggelam (anjaayy). Entah kenapa suasana riuh macet jalanan ini justru membuatku lebih tenang. Padahal aku berada dekat dengan situasi yang cukup chaos khas Jakarta pulang kantor. Belum pernah ada satu artikel atau jurnal yang aku baca tentang penjelasan hal ini sih. Ada yang tahu?

Sambil meminum segelas Magic yang aku pesan, aku juga membaca update berita dan informasi terkini terkait bencana banjir bandang dan tanah longsor di beberapa desa di Purbalingga. Bahkan ada dari beberapa temanku yang turun ke lokasi untuk menjadi relawan bencana.
Lokasi bencana cukup dekat dengan area kaki Gunung Slamet. Menurut beberapa sumber berita yang ku baca, salah satu penyebab bencana ini karena curah hujan yang cukup tinggi di kawasan Lereng Gunung Slamet. Beberapa akses jalan masih terputus dan ada pula yang sudah kembali bisa dilalui (sampai tulisan ini dibuat, proses normalisasi akses jalan masih dilakukan). Menurut data BPBD Purbalingga, ada sekitar 1000-an pengungsi saat ini. Kawasan pemukiman, bangunan sekolah hingga lahan pertanian juga rusak akibat bencana alam ini.
Selain Purbalingga, beberapa desa di Pemalang dan Banyumas juga mengalami banjir bandang dan tanah longsor akibat hujan deras beberapa hari terakhir ini.
Membaca berita bencana alam akhir-akhir ini ternyata menyadarkanku tentang relasi manusia dengan alam. Seperti sebuah pembahasan yang cukup berat dan filosofis nan spiritual tetapi sebenarnya nggak juga, kok. Sampai hari ini pun aku masih berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi antara manusia dan alam itu selalu berkaitan, selalu ada timbal baliknya.
Melihat apa yang terjadi dengan bencana di Aceh dan Sumatera Utara dua bulan ini (sampai tulisan ini dibuat, kondisi di sana masih belum pulih total), ada isu kerusakan ekosistem hutan akibat perkebunan sawit yang menjadi penting, terlepas memang saat itu curah hujan yang bisa dibilang sangat ekstrem. Semisal, kerusakan ekosistem akibat manusia itu hanya sekian kecil persentasenya, tetap saja kan manusia punya andil dalam kerusakan tersebut?
Belum lagi beberapa waktu lalu warga Banyumas menggelar aksi untuk menolak penambangan di lereng Gunung Slamet yang berpotensi berdampak buruk bagi lingkungan sekitar. Tulisan penting terkait polemik tambang di Banyumas ini bisa kalian baca di sini. Bahkan itu semua sudah terjadi sejak tahun 2017.
Mungkin ini seperti pembahasan yang terlalu ndakik-ndakik, mengawang-ngawang dan sok aktivis. Tapi yaaa masak sih hal-hal begini selalu dianggap sepele?
Aku merasa ketika ada satu berita bencana alam di setiap harinya, itu kaya jadi alarm buat diri sendiri juga, sih. Selain memang bumi yang sudah menua, perilaku manusia di dalamnya juga kadang memperkeruh keadaan alamnya.
Pada perjalanan pulang dari Semampire aku malah jadi overthinking (hehehe), sejauh ini aku tuh udah punya kontribusi apa sih buat alam, terutama di lingkungan sekitar tempat tinggal? Ahh, begitu deh….
28 Januari 2026
maszboks







Leave a Reply